Sabtu, 20 Juni 2015

Susunan (Tata Cara) Upacara Pernikah Adat Sunda CALL/SMS 0857-2139-0877

UPACARA ADAT SUNDA DI BANDUNG CALL/SMS 0857-2139-0877


Upacara Adat Perkawinan / Pernikahan Sunda Lengkap :
 


Pemandu Seserahan 
Siraman & Ngeuyeuk Seureuh diiringi musik Kecapi Suling. Sawer, buka pintu, huap lingkung setelah akad nikah. Upacara penyambutan pengantin/Mapag Panganten dengan karawitan/gamelan diiringi penari, pembawa payung, dan lengser untuk resepsi. 
Tarian hiburan (Salah satu : Topeng, Merak, Jaipongan, dll) menggunakan kaset.
M.C Adat dan M.C Umum untuk akad nikah dan resepsi, Wedding.

Pernikahan memang satu upacara sakral yang diharapkan sekali seumur hidup. Bentuk pernikahan banyak sekali bentuknya dari yang paling simple, dan yang ribet karena menggunakan upacara adat. Seperti pernikahan adat Sunda ini, kekayaan budaya tatar Sunda bisa dilihat juga lewat upacara pernikahan adatnya yang diwarnai dengan humor tapi tidak menghilangkan nuansa sakral dan khidmat.
Ada beberapa acara yang harus dilakukan untuk melangsungkan pernikahan, mulai dari lamaran dan lainnya.
Ada Neundeun Omong (Menyimpan Ucapan): Yaitu, Pembicaraan orang tua atau pihak Pria yang berminat mempersunting seorang gadis. Dalam pelaksanaannya neundeun omong biasanya, seperti berikut ini :




  • Pihak orang tua calon pengantin bertamu kepada calon besan (calon pengantin perempuan). Berbincang dalam suasana santai penuh canda tawa, sambil sesekali diselingi pertanyaan yang bersifat menyelidiki status anak perempuannya apakah sudah ada yang melamar atau atau masih (belum punya pacar)
  • Pihak orang tua (calon besan) pun demikian dalam menjawabnya penuh dengan benyolan penuh dengan siloka
  • Walapun sudah sepakat diantara kedua orang tua itu, pada jaman dahulu kadang-kadang anak-anak mereka tidak tahu.
  • Di beberapa daerah di wilayah pasundan kadang-kadang ada yang menggunakan cara dengan saling mengirimi barang tertentu. Seperti orang tua anak laki-laki mengirim rokok cerutu dan orang tua anak perempuan mengerti dengan maksud itu, maka apabila mereka setuju akan segera membalasnya dengan mengirimkan benih labu siam (binih waluh siam). Dengan demikian maka anak perempuannya itu sudah diteundeunan omong (disimpan ucapannya).
Narosan (Lamaran) : Dilaksanakan oleh orang tua calon pengantin beserta keluarga dekat, yang merupakan awal kesepakatan untuk menjalin hubungan lebih jauh. Pada pelaksanaannya orang tua anak laki-laki biasanya sambil membawa barang-barang, seperti yaitu :

  • Lemareun, (seperti daun sirih, gambir, apu )
  • Pakaian perempuan
  • Cincin meneng
  • Beubeur tameuh (ikat pinggang sang suka dipakai kaum perempuan terutama setelah melahirkan
  • Uang yang jumlahnya 1/10 dari jumlah yang akan dibawa pada waktu seserahan
Barang-barang yang dibawa dalam pelaksanaan upacara ngalamar itu tidak lepas dari simbol dan makna seperti :

  • Sirih, bentuknya segi tiga meruncing ke bawah kalau dimakan rasanya pedas. Gambir rasanya pahit dan kesat. Apu rasanya pahit. Tapi kalau sudah menyatu rasanya jadi enak dan dapat menyehatkan tubuh dan mencegah bau mulut.
  • Cincin meneng yaitu cincin tanpa sambungan mengandung makna bahwa rasa kasih dan sayang tidak ada putusnya
  • Pakaian perempuan, mengandung makna sebagai tanda mulainya tanggung jawab dari pihak laki-laki kepada perempuan
  • Beubeur tameuh, mengandung makna sebagai tanda adanya ikatan lahir dan batin antara kedua belah pihak
Tunangan : Pada tunangan dilakukan patukeur beubeur tameuh, yaitu penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos pada si gadis.
Seserahan : Dilakukan 3-7 hari sebelum pernikahan, yaitu calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan dan lainnya.
Seminggu atau 3 hari menjelang peresmian pernikahan, di rumah calon mempelai berlangsung sejumpah persiapan yang mengawali proses pernikahan, yaitu Ngebakan atau Siraman. Berupa acara memandikan calon pengantin agar bersih lahir dan batin, acara berlangsung siang hari di kediaman masing-masing calon mempelai. Bagi umat muslim, acara ini terlebih dahulu diawali dengan pengajian. Tahapan acara siraman adalah:

  • Ngecagkeun Aisan. Calon pengantin wanita keluar dari kamar dan secara simbolis digendong oleh sang ibu, sementara ayah calon pengantin wanita berjalan di depan sambil membawa lilin menuju tempat sungkeman. Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum resepsi pernikahan, sebagai simbol lepasnya tanggung jawab orang tua calon pengantin. Property yang digunakan:
    • Palika atau pelita atau menggunakan lilin yang berjumlah tujuh buah. Hal ini mengandung makna yaitu rukun iman dan jumlah hari dalam seminggu
    • Kain putih, yang mengandung makna niat suci
    • Bunga tujuh rupa, mengandung makna bahwa perilaku kita, selama tujuh hari dalam seminggu harus wangi yang artinya baik.
    • Bunga hanjuang, mengandung makna bahawa kedua calon pengantin akan memasuki alam baru yaitu alam berumah tangga.
Langkah-langkah upacara ini adalah:

  • Orang tua calon pengantin perempuan keluar dari kamar sambil membawa lilin/ palika yang sudah menyala,
  • Kemudian di belakangnya diikuti oleh calon pengantin peremupan sambil dililit (diais )oleh ibunya.
  • Setelah sampai di tengah rumah kemudian kedua orang tua calon pengantin perempuan duduk dikursi yang telah dipersiapkan
  • Untuk menambah khidmatnya suasana biasanya sambil diiring alunan kecapi suling dalam lagu ayun ambing.
Ngaras
Permohonan izin calon mempelai wanita kemudian sungkem dan mencuci kaki kedua orangtua pelaksanaan upacara ini dilaksanakan setelah upacara ngecagkeun aisan. Pelaksaannya sebagai berikut:
Calon pengantin perempuan bersujud dipangkuan orang tuanya sambil berkata:

 
“Ema, Bapa, disuhunkeun wening galihnya, jembar
manah ti salira. Ngahapunteun kana sugrining kalepatan sim abdi. Rehing dina dinten enjing pisan sim abdi seja nohonan sunah rosul. Hapunten Ema, hapunten Bapa hibar pangdu’a ti salira.”
Orang tua calon perempuan menjawab sambil mengelus kepala anaknya:
 
“Anaking, titipan Gusti yang Widi. Ulah salempang hariwang, hidep sieun teu tinemu bagja ti Ema sareng ti Bapa mah, pidu’a sareng pangampura, dadas keur hidep sorangan geulis”
Selanjutnya kedua orang tua calon pengantin perempuan membawa anaknya ke tempat siraman untuk melaksanakan upacara siraman.
  • Pencampuran air siraman. Kedua orangtua menuangkan air siraman ke dalam bokor dan mengaduknya untuk upacara siraman.
  • Siraman. Diawali musik kecapi suling, calon pengantin wanita dibimbing oleh perias menuju tempat siraman dengan menginjak 7 helai kain. Siraman calon pengantin wanita dimulai oleh ibu, kemudian ayah, disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiram ganjil; 7, 9 dan paling banyak 11 orang. Secara terpisah, upacara yang sama dilakukan di rumah calon mempelai pria. Perlengkapan yang diperlukan adalah air bunga setaman (7 macam bunga wangi), dua helai kain sarung, satu helai selendang batik, satu helai handuk, pedupaan, baju kebaya, payung besar, dan lilin.
Pelaksanaan upacara siraman seperti berikut:
  1. Sesudah membaca doa, Ayah calon pengantin langsung menyiramkan air dimulai dari atas kepala hingga ujung kakunya. Setelah itu diteruskan oleh Ibunya sama seperti tadi. Dan dilanjutkan oleh kerabat yang harus sudah menikah.
  2. Pada siraman terakhir biasanya dilakukan dengan malafalkan jangjawokan (mantra) seperti berikut:
cai suci cai hurip
cai rahmat cai nikmat
hayu diri urang mandi
nya mandi jeung para Nabi
nya siram jeung para Malaikat
kokosok badan rohani
cur mancur cahayaning Allah
cur mancur cahayaning ingsun
cai suci badan suka
mulih badan sampurna
sampurna ku paraniam
  • Potong rambut atau Ngerik. Calon mempelai wanita dipotong rambutnya oleh kedua orangtua sebagai lambing memperindah diri lahir dan batin. Dilanjutkan prosesi ngeningan (dikerik dan dirias), yakni menghilangkan semua bulu-bulu halus pada wajah, kuduk, membentuk amis cau/sinom, membuat godeg, dan kembang turi. Perlengkapan yang dibutuhkan: pisau cukur, sisir, gunting rambut, pinset, air bunga setaman, lilin atau pelita, padupaan, dan kain mori/putih. Biasanya sambil dilantunkan jangjawokan juga:
Peso putih ninggang kana kulit putih
Cep tiis taya rasana
Mangka mumpung mangka melung
Maka eunteup kana sieup
Mangka meleng ka awaking, ngeunyeuk
seureuh
  • Rebutan Parawanten. Sambil menunggu calon mempelai dirias, para tamu undangan menikmati acara rebutan hahampangan danbeubeutian. Juga dilakukan acara pembagian air siraman.
  • Suapan terakhir. Pemotongan tumpeng oleh kedua orangtua calon mempelai wanita, dilanjutkan dengan menyuapi sang anak untuk terakhir kali masing-masing sebanyak tiga kali.
  • Tanam rambut. Kedua orangtua menanam potongan rambut calon mempelai wanita di tempat yang telah ditentukan.
Lalu dilanjutkan dengan Ngeuyeuk Seureuh. Kedua calon mempelai meminta restu pada orangtua masing-masing dengan disaksikan sanak keluarga. Lewat prosesi ini pula orangtua memberikan nasihat lewat lambang benda-benda yang ada dalam prosesi. Lazimnya, dilaksanakan bersamaan dengan prosesi seserahan dan dipimpin oleh Nini Pangeuyeuk (juru rias). Kata ngeuyeuk seureuh sendiri berasal dari ngaheuyeuk yang ngartinya mengolah. Acara ini biasanya dihadiri oleh kedua calon pengantin beserta keluarganya yang dilaksanakan pada malam hari sebelum akad nikah.
Pandangan hidup orang Sunda senantiasa dilandasi oleh tiga sifat utama yakni silih asih, silih asuh, dan silih asah atau secara literal diartikansebagai saling menyayangi, saling menjaga, dan mengajari. Ketiga sifat itu selalu tampak dalam berbagai upacara adat atau ritual terutama acara ngeuyeuk seureuh. Diharapkan kedua calon pengantin bisa mengamalkan sebuah peribahasa kawas gula jeung peuet (bagaikan gula dengan nira yang sudah matang) artinya hidup yang rukun, saling menyayangi dan sebisa mungkin menghindari perselisihan. Tata cara Ngeuyeuk Sereuh:
  1. Nini Pangeuyeuk memberikan 7 helai benang kanteh sepanjang 2 jengkal kepada kedua calon mempelai. Sambil duduk menghadap dan memegang ujung-ujung benang, kedua mempelai meminta izin untuk menikah kepada orangtua mereka.
  2. Pangeuyeuk membawakan Kidung berisi permohonan dan doa kepada Tuhan sambil nyawer (menaburkan beras sedikit-sedikit) kepada calon mempelai, simbol harapan hidup sejahtera bagi sang mempelai.
  3. Calon mempelai dikeprak (dipukul pelan-pelan) dengan sapu lidi, diiringi nasihat untuk saling memupuk kasih sayang.
  4. Kain putih penutup pangeuyeukan dibuka, melambangkan rumah tangga yang bersih dan tak ternoda. Menggotong dua perangkat pakaian di atas kain pelekat; melambangkan kerjasama pasangan calon suami istri dalam mengelola rumah tangga.
  5. Calon pengantin pria membelah mayang jambe dan buah pinang. Mayang jambe melambangkan hati dan perasaan wanita yang halus, buah pinang melambangkan suami istri saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri. Selanjutnya calon pengantin pria menumbuk alu ke dalam lumping yang dipegang oleh calon pengantin wanita.
  6. Membuat lungkun, yakni berupa dua lembar sirih bertangkai berhadapan digulung menjadi satu memanjang, lalu diikat benang. Kedua orangtua dan tamu melakukan hal yang sama, melambangkan jika ada rezeki berlebih harus dibagikan.
  7. Diaba-abai oleh pangeuyeuk, kedua calon pengantin dan tamu berebut uang yang berada di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rezeki dan disayang keluarga.
  8. Kedua calon pengantin dan sesepuh membuang bekas ngeuyeuk seureuh ke perempatan jalan, simbolisasi membuang yang buruk dan mengharap kebahagiaan dalam menempuh hidup baru.
  9. Menyalakan tujuh buah pelita, sebuah kosmologi Sunda akan jumlah hari yang diterangi matahari dan harapan akan kejujuran dalam mebina kehidupan rumah tangga.
Pada hari yang telah ditetapkan oleh kedua keluarga calon pengantin. Rombongan keluarga calon pengantin Pria datang ke kediaman calon pengantin perempuan. Selain membawa mas kawin, biasanya juga membawa peralatan dapur, perabotan kamar tidur, kayu bakar, gentong (gerabah untuk menyimpan beras). Di daerah Priangan, susunan acara upacara akad nikah biasanya sebagai berikut:
  • Pembukaan:
  1. Penyambutan calon pengantin Pria, dalam acara ini biasanya dilaksanan upacara mapag.
  2. Mengalungkan untaian bunga melati
  3. Gunting pita
  • Penyerahan calon Pengantin Pria:
  1. Yang mewakili pemasrahan calon pengantin pria biasanya adalah orang yang dituakan dan ahli berpidato.
  2. Yang menerima dari perwakilan wanita juga diwakilkan
  • Akad Nikah:
  1. Biasanya diserahkan pada KUA
  2. Pada hari pernikahan, calon pengantin pria beserta para pengiring menuju kediaman calon pengantin wanita, disambut acara Mapag Penganten yang dipimpin oleh penari yang disebut Mang Lengser. Calon mempelai pria disambut oleh ibu calon mempelai wanita dengan mengalungkan rangkaian bunga. Selanjutnya upacara nikah sesuai agama dan dilanjutkan dengan sungkeman dan sawer.
Setelah akad nikah, masih dilakukan beberapa upacara, yaitu:
Saweran.
Merupakan upacara memberi nasihat kepada kedua mempelai yang dilaksanakan setelah acara akad nikah. Melambangkan Mempelai beserta keluarga berbagi rejeki dan kebahagiaan. Kata sawer berasal dari kata panyaweran , yang dalam bahasa Sunda berarti tempat jatuhnya air dari atap rumah atau ujung genting bagian bawah. Mungkin kata sawer ini diambil dari tempat berlangsungnya upacara adat tersebut yaitu panyaweran.Berlangsung di panyaweran (di teras atau halaman). Kedua orang tua menyawer mempelai dengan diiringi kidung. Untuk menyawer, menggunakan bokor yang diisi uang logam, beras, irisan kunyit tipis, permen. Kedua Mempelai duduk berdampingan dengan dinaungi payung, seiring kidung selesai di lantunkan, isi bokor di tabur, hadirin yang menyaksikan berebut memunguti uang receh dan permen. Bahan-bahan yang diperlukan dan digunakan dalam upacara sawer ini tidaklah lepas dari simbol dan maksud yang hendak disampaikan kepada pengantin baru ini, seperti :
  1. beras yang mengandung symbol kemakmuran. Maksudnya mudah-mudah setelah berumah tangga pengantin bisa hidup makmur
  2. uang recehan mengandung symbol kemakmuran maksudnya apabila kita mendapatkan kemakmuran kita harus ikhlas berbagi dengan Fakir dan yatim
  3. kembang gula, artinya mudah-mudah dalam melaksanakan rumah tangga mendapatkan manisnya hidup berumah tangga.
  4. kunyit, sebagai symbol kejayaan mudah-mudahan dalam hidup berumah tangga bisa meraih kejayaan.
Kemudian semua bahan dan kelengkapan itu dilemparkan, artinya kita harus bersifat dermawan. Syair-syair yang dinyanyikan pada upacara adat nyawer adalah sebagai berikut :
KIDUNG SAWER
Pangapunten kasadaya
Kanu sami araya
Rehna bade nyawer heula
Ngedalkeun eusi werdaya
Dangukeun ieu piwulang
Tawis nu mikamelang
Teu pisan dek kumalancang
Megatan ngahalang-halang
Bisina tacan kaharti
Tengetkeun masing rastiti
Ucap lampah ati-ati
Kudu silih beuli ati
Lampah ulah pasalia
Singalap hayang waluya
Upama pakiya-kiya
Ahirna matak pasea
Meuleum Harupat ( Membakar Harupat )
Mempelai pria memegang batang harupat,pengantin wanita membakar dengan lilin sampai menyala. Harupat yang sudah menyala kemudian di masukan ke dalam kendi yang di pegang mempelai wanita, diangkat kembali dan dipatahkan lalu di buang jauh jauh. Melambangkan nasihat kepada kedua mempelai untuk senantiasa bersama dalam memecahkan persoalan dalam rumah tangga. Fungsi istri dengan memegang kendi berisi air adalah untuk mendinginkan setiap persoalan yang membuat pikiran dan hati suami tidak nyaman.
Buka pintu

Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan..Dialog pengantin perempuan dengan pengantin laki-laki seperti berikut ini :
KENTAR BAYUBUD
Istri : Saha eta anu kumawani
Taya tata taya bemakrama
Ketrak- ketrok kana panto

Laki-laki : Geuning bet jadi kitu
Api-api kawas nu pangling
Apan ieu teh engkang
Hayang geura tepung
Tambah teu kuat ku era
Da diluar seueur tamu nu ningali

Istri : Euleuh karah panutan

Nincak Endog (Menginjak Telur)
Mempelai pria menginjak telur di baik papan dan elekan (Batang bambu muda), kemudian mempelai wanita mencuci kaki mempelai pria dengan air di kendi, me ngelapnya sampai kering lalu kendi dipecahkan berdua. Melambangkan pengabdian istri kepada suami yang dimulai dari hari itu.

Ngaleupas Japati ( Melepas Merpati )
Ibunda kedua mempelai berjalan keluar sambil masing masing membawa burung merpati yang kemudian dilepaskan terbang di halaman. Melambang kan bahwa peran orang tua sudah berakhir hari itu karena kedua anak mereka telah mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

Huap Lingkung (Suapan)
  1. Pasangan mempelai disuapi oleh kedua orang tua. Dimulai oleh para Ibunda yang dilanjutkan oleh kedua Ayahanda.
  2. Kedua mempelai saling menyuapi, Tersedia 7 bulatan nasi punar ( Nasi ketan kuning ) diatas piring. Saling menyuap melalui bahu masing masing kemudian satu bulatan di perebutkan keduanya untuk kemudian dibelah dua dan disuapkan kepada pasangan .
Melambangkan suapan terakhir dari orang tua karena setelah berkeluarga, kedua anak mereka harus mencari sendiri sumber kebutuhan hidup mereka dan juga menandakan bahwa kasih sayang kedua orang tua terhadap anak dan menantu itu sama besarnya.
Pabetot Bakakak (Menarik Ayam Bakar)
Kedua mempelai duduk berhadapan sambil tangan kanan mereka memegang kedua paha ayam bakakak di atas meja, kemudian pemandu acara memberi aba – aba , kedua mempelai serentak menarik bakakak ayam tersebut hinggak terbelah. Yang mendapat bagian terbesar, harus membagi dengan pasangannya dengan cara digigit bersama. Melambangkan bahwa berapapun rejeki yang didapat, harus dibagi berdua dan dinikmati bersama.

Numbas

Upacara numbas biasa dilaksanakan satu minggu setelah akad nikah. Upacara numbas mengandung maksud untuk memberi tahu kepada keluarga dan tetangga bahwa pengantin perempuan “tidak mengecewakan” pengantin laki-laki. Upacara numbas dilakukan dengan cara membagi-bagikan nasi kuning.
DIKUTIP DARI BEBERAPA SUMBER ARTIKEL SUNDA



UPACARA ADAT SUNDA DI BANDUNG CIMAHI DAN SEKITARNTA


Jalan Rumah Sakit Gg H Wahab RT 04/04 Ujung Berung Bandung
Telp/ SMS
0857-2139-0877
Upacara, Adat, Sunda, Degung, Kacapi Suling, Mapag Panganten, Prosesi Seni, Upacara Adat, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Mapag Panganten, Upacara Prosesi Seni, Upacara Adat, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat Sunda, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Sunda Mapag Panganten, Upacara Sunda Prosesi Seni, Upacara Adat Sunda, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat Sunda, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Adat Sunda Mapag Panganten, Upacara Adat Sunda Prosesi Seni, Upacara Adat Sunda, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video.

Sabtu, 25 April 2015

Rangkaian Pernikahan/Perkawinan Adat Sunda

 UPACARA ADAT SUNDA DI BANDUNG CALL/SMS 0857-2139-0877


Upacara Adat Perkawinan / Pernikahan Sunda Lengkap :
 

Pemandu Seserahan 

Siraman & Ngeuyeuk Seureuh diiringi musik Kecapi Suling. Sawer, buka pintu, huap lingkung setelah akad nikah. Upacara penyambutan pengantin/Mapag Panganten dengan karawitan/gamelan diiringi penari, pembawa payung, dan lengser untuk resepsi. 

Tarian hiburan (Salah satu : Topeng, Merak, Jaipongan, dll) menggunakan kaset.

M.C Adat dan M.C Umum untuk akad nikah dan resepsi, Wedding.

ngeuyeuk_seureuh
Add caption

Tata perkawinan adat sunda di Jawa Barat dimulai dengan adat meminang. Keluarga calon mempelai pria berkunjung ke rumah calon mempelai wanita untuk mengetahui sejumlah keterangan mengenai calon memperalai wanita. Tahap ini disebut nanyaan. Apabila status sang gadis sudah jelas, dan kedua orang tua setuju, kegiatan dilanjutkan dengan neundeun omong.

Disediakan waktu beberapa pekan atau bulan setelah neundeun omong sebelum mencapai proses selanjutnya, yakni nyeureuhan atau ngalamar (melamar). Waktu yang disediakan itu dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada kedua keluarga untuk saling mengenal. Dahulu, keluarga pengantin pria selalu membawa bingkisan sirih lengkap yang dibungkus rapi disertai sejumlah uang. Pasalnya, ngalamar berarti sirih atau menyatukan menjadi satu. Jika pihak keluarga calon pengatin wanita membuka dan langssung dimakan bersama-sama itu menandakan lamaran sang pria diterima. Sementara uang yang diserahkan saat prosesi ini berfungsi sebagai penyangcang atau mengikat sekaligus merupakan ukuran besar uang yang akan diberikan calan pengatin pria kelak untuk biaya pernikahan.

Di dalam buku Upacara Perkawinan Adat Sunda karya Thomas Wiyasa Bratawidjaja (1990) disebutkan, upacara seserahan biasanya berlangsung sehari atau dua sebelum acara pernikahan. Orang tua dan calon pengantin pria datang ke rumah calan pengantin wanita sambil membawa barang-barang keperluan calon pengantin wanita serta peralatan untuk upacara ngeuyeuk seureuh.

Upacara ini dipimpin oleh seorang wanita “berumur” yang disebut pangeuyeuk. Tujuannya untuk memberikan nasihat kepada kedua calon mempelai dalam menjalankan hidup berumah tangga. Setelah panyeuyeuk menjelaskan arti bahan-bahan ngeuyeuk seureuh kepada calon pengantin, bahan-bahan yang diperlukan disimpan di kamar pengantin untuk upacara akad saat pernikahan berlangsung. Sementara bahan-bahan yang tidak diperlukan disimpan diatas tikar teertutup dan ditumpahkan di perempat jalan terdekat. Dahulu prosesi ini digunakan untuk mengumumkan kepada pendduduk desa bahwa di daerah itu akan ada orang tua yang mengawiinkan putrinya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengajian, ngecagkeun aisan/ngaras sampean, lalu ngibakan atau ngebakan (siraman). Setelah itu, kedua calon pengantin mengikuti upacara ngeningan atau mengerik bulu-bulu halus yang ada di wajah, kuduk, leher, serta memotong rambut didahi untuk membentuk amis cau, dan membuat godeng lengkungan di batas pipi. Sementara untuk calon mengantin pria, ngeningan hanya untuk membersihkan bulu halus.

Setelah pelaksanaan akad nikah, kedua mempelai melakukan sembah sungkem kepada orang tua, dilanjutkan dengan prosesi sawer. Menurut Ketua bidang Kepribadian Ikatan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indoensia Tiara Kusuma Jawa Barat Hj. Yetty Kurniati, di dalam acara saweran, kedua mempelai diberi nasihat yang makna rohaninya sangat tinggi. Nasihat itu disampaikan dalam kidung (nyanyian empat baris) atau sekar macapat, seperti dangdanggula, kinanti, sinom, asmarandana, dan sebagainya.

Prosesi berikutnya, pengantin meuleum harupat dan nincak endog. Prosesi ini mengandung pesan dan juga melambangkan harapan bahwa istri mampu menjadi penenang suami dan bersama-sama membuang sifat yang tidak baik.

Tata upacara adat Sunda juga meliputi prosesi ngalangkah barera, di mana kedua mempelai bersama-sama melangkahi barera sebagai simbol menuju kehidupan yang baru. Ada pula adat “buka pintu” dimana mempelai pria berada di luar rumah dan mempelai wanita berada di dalam rumah. Melalui komunikasi berbalas pantun atau kidung, mempelai wanita meminta suaminya untuk membacakan syahadat sebelum diizinkan memasuki rumah.

Setelah diperbolehkan memasuki rumah, kedua mempelai yang telah syah sebagai suami istri kemudian menempati pelaminan lalu melakukan prosesi huap lingkung dan pabetot-betot bakakak hayam. Ini bermaksa tugas orang tua untuk membimbing anak-anaknya telah selesai dan diserahkan kepada pengatin untuk membina rumah tangga yang rukun dan sejahtera.

Satu lagi prosesi adat yang selalu hadir dalam pernikahan orang Jawa Barat adalah mapag panganten oleh lengser dan penari merak. Ketua Ikatan Ahli Kecantikan dan Penguasa Salon Tiara Kusuma Jawa Barat Hj. Uun Unajah mengatakan, lengser merupkan simbol dari tetua adat atau kokolot yang memandu jalan pengantin meuju pelamian. Ini mengandung arti bahwa dalam menjalani perkawinan pasangan harus berjalan lurus dan selalau setia. Sementara kehadiran pera menari merak merupakan bentuk penyambutan luar biasa kepada pengantin yang dianggap sebagai raja dan ratu sehari.

Diluar upacara-upacara adat ini masih banyak upacara adat lain dalam prosesi pernikahan adat Sunda, seperti ngunduh mantu, munjungan, serta ngarunghal.***

Sumber: Lia Marlia – Weyatini/*Pikiran Rakyat

Upacara, Adat, Sunda, Degung, Kacapi Suling, Mapag Panganten, Prosesi Seni, Upacara Adat, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Mapag Panganten, Upacara Prosesi Seni, Upacara Adat, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat Sunda, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Sunda Mapag Panganten, Upacara Sunda Prosesi Seni, Upacara Adat Sunda, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat Sunda, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Adat Sunda Mapag Panganten, Upacara Adat Sunda Prosesi Seni, Upacara Adat Sunda, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video.

Sabtu, 28 Februari 2015

Jasa Upacara pernikahan adat sunda Mapag Panganten di Bandung

 Upacara pernikahan adat sunda di bandung Call 0857 203 250 16.



Pernikahan memang satu upacara sakral yang diharapkan sekali seumur hidup.
Ada beberapa acara yang harus dilakukan untuk melangsungkan pernikahan, mulai dari lamaran dan lainnya.Bentuk pernikahan banyak sekali bentuknya dari yang paling simple, dan yang ribet karena menggunakan upacara adat. Seperti pernikahan adat Sunda ini, kekayaan budaya tatar Sunda bisa dilihat juga lewat upacara pernikahan adatnya yang diwarnai dengan humor tapi tidak menghilangkan nuansa sakral dan khidmat.
 
1.Nendeun Omong, yaitu pembicaraan orang tua atau utusan pihak pria yang berminat mempersunting seorang gadis. 
 
2.Lamaran. Dilaksanakan orang tua calon pengantin beserta keluarga dekat. Disertai  seseorang berusia lanjut sebagai pemimpin upacara. Bawa lamareun atau sirih pinang komplit, uang, seperangkat pakaian wanita sebagai pameungkeut (pengikat). Cincin tidak mutlak harus dibawa. Jika dibawa, bisanya berupa cincing meneng, melambangkan kemantapan dan keabadian. 
3.Tunangan. Dilakukan ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si gadis. 
4.Seserahan (3 – 7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain.
5.Ngeuyeuk seureuh (opsional, Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah.)
oDipimpin pengeuyeuk.
oPengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawanten, pangradinan dan sebagainya.
oDiiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk
oDisawer beras, agar hidup sejahtera.
odikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih sayang dan giat bekerja.
oMembuka kain putih penutup pengeuyeuk. Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.
oMembelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin pria). Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri.
oMenumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin pria). 
6.Membuat lungkun. Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan handai taulan. 
7.Berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang keluarga. 
8.Upacara Prosesi Pernikahan
oPenjemputan calon pengantin pria, oleh utusan dari pihak wanita
oNgabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua calon pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.
oAkad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan di sebelah kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti penyatuan dua insan yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai akan menandatangani surat nikah.
oSungkeman,
oWejangan, oleh ayah pengantin wanita atau keluarganya.
oSaweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi payung besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.
oMeuleum harupat, pengantin wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria.
oNincak endog, pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas  kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin wanita.
oBuka pintu. Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan.
9.Ada sebagian lain menggunakan adat yang dibalut dengan humor seperti :
Mempunyai keunikan tersendiri, di selenggarakan secara humor namun tidak kehilangan atmosfer sacral dan khidmat. Salah satu khas pengantin adapt sunda adalah mempelai wanita menggunakan siger – sejenis mahkota atau hiasan pada bagian kepala sebagai lambing status terhormat sebagaimana di kenakan oleh raja/ratu tanah pasundan sejak dahulu kala . Tata cara sebagai berikut ;
Ngebakan atau siraman
Memandikan calon pengantin wanita agar bersih lahir dan batin sebelum memasuki saat pernikahan. Acara berlangsung siang hari di kediaman calon pengantin wanita. Bagi umat muslim di dahului oleh pengajian atau rasulan dan pembacaan do’a khusus kepada calon pengantin wanita. Rangakain sebagai berikut :
10.Ngecagkeun aisan.
Dimulai dengan calon pengantin wanita keluar dari kamar secara simbolis di gendong oleh Ibu sementara ayah calon pengantin wanita berjalan di depan sambil membawa lilin menuju tempat sungkeman. Maksud dari acara ini adalah melepas tanggung jawab orang tua terhadap anak yang akan menikah.
·Ngaras
Berupa permohonan izin calon mempelai wanita kemudian mencuci kaki kedua orang tua dan diteruskan dengan sungkeman.
·Pencampuran air siraman
Kedua orang tua menuangakan air siraman yang berasal dari 7 sumber ke dalam bokor dan mengaduknya untuk upacara siraman.
·Siraman
Diiringi dengan musik kecapi suling atau shalawat nabi, calon pengantin wanita dibimbing oleh Ibu Perias menuju tempat siraman dengan menginjak 7 helai kain. Siraman pengantin wanita dimulai oleh sang Ibu, kemudian ayah, disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiraman ganjil 7,9 dan paling banyak 11 orang. Setelah itu Bapak calon pengantin wanita memberikan air wudhlu kepada calon pengantin dengan menggunakan air setaman yang ada di dalam kendi.
·Potong rambut
Dilakasanakn oleh kedua orang tua, sebagai lambang memperindah diri calon mempelai wanita lahir dan batin. Selanjutnya calon mempelai wanita menjalani acara ngeningan ( di kerik dan di rias) untuk persiapan acara suapan dan seserahan.
·Rebutan parawanten
Sambil menunggu calon mempelai dirias, para tamu undangan menikmati acara rebutan para wanten yang terdiri dari hahampangan dan beubeutian. Para tamu juga dipersilahkan mengambil air siraman yang masih tersisa.
·Suapan terakhir
Pemotongan tumpeng oleh kedua orang tua calon mempelai wanita. Di lanjutkan dengan acara memberi suapan terakhir masing masing sebanyak 3 kali.
·Tanam rambut
Kedua orang tua menanam potongan rambut calon mempelai wanita di tempat yang telah ditentukan.

Jasa Upacara pernikahan adat sunda Mapag Panganten di Bandung

Upacara pernikahan adat sunda di bandung Call 0857 203 250 16.

Menerima Paket Upacara Adat Sunda Mapag Panganten,terbaik, terkonsep,rapih,dan elegan sesuai permintaan anda.SANGGAR DASELA akan membantu dan mengurus anda dari awal akad nikah sampe Resepsi.

Menu Paket :

1.Upacara adat sunda

- sawer,sungkem,meleumharupat/injak telur,huap lingkung 

2.Siraman

- Kecapi , suling dan sinden

- Pemandu Adat Ngaras

3.Upacara adat Sunda Mapag Panganten

- Penari Badaya atau Merak sesuai permintaan

- Penari Baksa

- Penari Aki Lengser

- Penari Rama dan Shinta

- Penari payung agung dan Kencana

- Music Gamelan Live

- Mc akad dan Resepsi

4.Sounds sistem

5.Electone atau akustik

SANGGAR DASELA  akan membantu acara resepsi anda dengan terbaik, terkonsep,rapih,dan elegan dari awal akad nikah sampai Resepsi.

Jangan Pernah tertarik dari Paketan orang lain tanpa kita tau jenis nya dan konsep nya yg mendetail,karna orang yang hajat Bagus dan jelek nya akan di bicarakan orang lain.

Serahkan pada ahlinya SANGGAR DASELA akan membantu anda dengan maximal dan acara resepsi anda akan selalu Manis untuk di Kenang.

Jumat, 09 Januari 2015

UPACARA ADAT SUNDA MAPAG PANGANTEN

UPACARA ADAT SUNDA DI BANDUNG CALL/SMS/WA 0857 203 250 16. pin 5134bdff

Upacara Adat Perkawinan / Pernikahan Sunda Lengkap : 

Pemandu Seserahan 

Siraman & Ngeuyeuk Seureuh diiringi musik Kecapi Suling. Sawer, buka pintu, huap lingkung setelah akad nikah. Upacara penyambutan pengantin/ Mapag Panganten dengan karawitan/gamelan diiringi penari, pembawa payung, dan lengser untuk resepsi. 

Tarian hiburan (Salah satu : Topeng, Merak, Jaipongan, dll) menggunakan kaset.

M.C Adat dan M.C Umum untuk akad nikah dan resepsi, Wedding.

MENERIMA PAKET UPACARA ADAT SUNDA MAPAG PANGANTEN DIANTARANYA ADALAH :

1.PENARI BADAYA ATAU MERAK
2.PENARI BAKSA
3.PENARI PAYUNG AGUNG
4.PENARI AKI DAN AMBU LENGSER 
5.PENARI RAMA DAN SHINTA 
6.MUSIC LIVE GAMELAN ATAU BAND AKUSTIK LIVE 
7.UPACARA ADAT SUNDA,SAWER,SUNGKEM,MELEUM HARUPAT/INJAK TELUR,HUAPLINGKUNG,TARIK BAKAKAK
8.KACAPIAN DAN TARI SUNDA

A.MC AKAD DAN RESEPSI 
B.AKUSTIK 
C.BAND
D.ELECTONE
E.SOUNDS SISTEM
F.SIRAMAN DAN PERELATAN NYA LENGKAP
G.RAMPAK KENDANG
H.WEDDING ORGANIZER 

JADIKAN HARI BAHAGIA ANDA MENJADI LEBIH INDAH DAN MANIS UNTUK DI KENANG …SERAHKAN PADA KAMI
 
 
Upacara, Adat, Sunda, Degung, Kacapi Suling, Mapag Panganten, Prosesi Seni, Upacara Adat, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Mapag Panganten, Upacara Prosesi Seni, Upacara Adat, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat Sunda, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Sunda Mapag Panganten, Upacara Sunda Prosesi Seni, Upacara Adat Sunda, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat Sunda, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Adat Sunda Mapag Panganten, Upacara Adat Sunda Prosesi Seni, Upacara Adat Sunda, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video.

NASKAH UPACARA ADAT SUNDA JEUNG SAWER PANGANTEN

UPACARA ADAT SUNDA DI BANDUNG CALL/SMS/WA 0857 203 250 16. pin 5134bdff

Upacara Adat Perkawinan / Pernikahan Sunda Lengkap : 

Pemandu Seserahan 

Siraman & Ngeuyeuk Seureuh diiringi musik Kecapi Suling. Sawer, buka pintu, huap lingkung setelah akad nikah. Upacara penyambutan pengantin/ Mapag Panganten dengan karawitan/gamelan diiringi penari, pembawa payung, dan lengser untuk resepsi. 

Tarian hiburan (Salah satu : Topeng, Merak, Jaipongan, dll) menggunakan kaset.

M.C Adat dan M.C Umum untuk akad nikah dan resepsi, Wedding.
 

Naskah Upacara Adat Sunda


Gending khusus

Narasi:
Jeung diantara tanda-tanda kakawasaanana
Geus diciptakeun pikeun aranjeun
Pasangan hirup diantara aranjeun
Rasa asih diantara aranjeun
Sangkan aranjeun aya dina katingtriman

Rajah lengser (amitan)
Rampak sekar:
Tah sora goong ngungkungan aya naon aya naon 2X
Tah sora-sora bewara tah sora goong tanggara tanggara reujeung bewara
Paheut hiji subaya

Nu pasini jatuk rami ayeuna dugi kawanci
Nu paheut ngeuyeuk kadeudeuh ayeuna parantos rawuh
Dipapag dibageakeun bagea wilujeng sumping calon rajaning sadinten
Nulinggih di istrenan

Solo:
Pun sapun uwa hampura
Manawi tatamu saha
Rumaos uwa leleda
Sakedap antosan heula uwa tumut kasalira
Seja ngembarkeun bewara kasakumna balarea
Pun sapun
Uwa nebarkeun sumping
Tuh atra ngaleut ngalabring
Der gending geura ramekeun
Bral miang geura papageun
Bur payung geura bukakeun 3X

Gending umbul-umbul/ibing baksa:
Sampak/gending khusus (keringan)
Gending payung (pangapungan):
Samapiung ngapung ka manggung
Ngapak mega ngawang-ngawang burudul
Budul saalung baju barabay
Sawidak deupa rup kusambut rap ku lemah
Kadingdingan indung peuting kahalangan mega malang
Enggeus…
Rentong sagede papatong reuntas sagede bangbara
Tarik batan mimis bedil
Reuntas batan kuda lumpat
Awak wawuh jeung nulembut
Awak loma juragan
Duh jeung dewata

Gending lengser (khusus)
Lengser midang (Gudril):
Uwa lengser 2X
Geus miang mapag nugandang
Leumpangna rurusuhan
Bangun taya karingrang
Diudag-udag kalangkang 2X

Gending mayang (pajajaran):
Nagri mashur pajajaran
Patilasan siliwangi
Jung nanjung 2X
Panganten sing nanjung
Mugi gusti nangtayungan

Tawur kembang (bunga):
Catrik:
Ditawur kembang malati
Sengitna tisanubari
Nuseyngit kanggo salira
Tiwargi sadaya
Sing asih kembang katresnan
Nu medal nalelembutan
Hariring kanggo salira
Tiwargi sadaya

Kulu-kulu:
Haturan jimat awaking
Panganten teh gening sumping
Hidep nu dianti-anti
Nyumponan jangji pasini

Ditawur kembang malati
Seungit kembang mawar sari
Nu seungit kanggo salira
Ti abdi-abdi sadaya

Baheula mah nelengnenggung
Ayeuna jalugjug jangkung
Baheula mah nelengneggung
Ayeuna kabale nyungcung

Kalung bunga:
(jemplang titi)

Tari persembahan (merak):
Gending hkusus lagu catrik

Sholawatan:
Shollalloh ‘ala Muhammad
Shollalloh ‘alaihiwasallam 2X

NASKAH SIRAMAN



PEMBUKAAN
Bismillahhirrohmanirrohim, asashaduallaila haillalloh waashaduana muhamaddarasulullah.
Alhamdullillah, wasyukurillah
Sim kuring langkung tipayun,seja manjatkeun puja sinareng puji, ka gusti num aha suci, maha welas asih, wireh dina danguek ieu, mantena atos maparin kaanugrahan urang anu sami-sami hadir ditempat anu mulya ieu, mangrupi mangpirang-pirang nikmat anu tampawangenan, urang sadayana tiasa ruing mungpulung paamprok jonghok, patepang raray, dina suasana silaturahmi tur aya dina kaayaan sehat walafiat, ibu-ibu bapa-bapa anu dimulyakeun kualloh, mangga urang dikawitan ku maos bismillah...

NARASI

Nun gusti sembaheun abdi-abdi sadaya. Teu kendat-kendat abdi sadaya nyembahkeun, puji sinareng syukur ka pangeran gusti allohu robbul a’lamin.
Rehing ginanjar ni’mat nu teu kendat-kendat natrat manjang ti wiwit kun fayakun agung, dumugi kawangkid ieu anu sesah ngawincikna kinasihan gusti ka sugrining anu gumelip.
Saesining jagat lahir kalih jagat batin, ku jajaran kitu, dinten ieu abdi-abdi sadaya masih tiasa nyakseni kanan kajembaran gusti.
Wireh kantos parantos maparin kasalametan  rahmatan
Ka keluarga besar bapak……………… kalintang bagjana tiasa mapagonsn tepung rabi dina sareat kaislaman.
Mangga arang nyakseni kana sungkemna (pihak laki2 dan pihak perempuan) kanu janten ibu rama.
Mangga upacara sungkem dikawitan.


RAJAH

Bismillah seja sumujud ka Indung anu ngakandung.
Bismillah seja mumuja kabapa tangkal darajat.
Wiwitan gumelar lahir rawayan ka pawenangan.
Sumeja ngaras sampean.
Neda ridzoning Pangeran.

AYUN AMBING

Ayun ayun ambing.
Di ayun-ayun kusamping.
………………anu kasep/anu geulis.
Yap kadiue urang ngariung.
Dianti ti tadi, dianti-anti ti tadi.
Teu karasa hidep teh nincak sawawa.
Basa……………ditimang jeung dihuapan.
Diibakan kumamah teterejelan.
Mamah rek ngibakan nu pamungkas.

NARASI PANGANTEN ( Ka Ibu Rama )

Duh…Ibu anu kuabdi dipunjung satutup umur.
Kanggo abdi suda pibasaeun anu payus dipiunjuk ka Ibu.
Ti kawit abdi dialam rahim dugi kaluminjing dialam lahir.
Abdi anu saestu mung bobot anu ngabotkeun kakersa ibu.
Siang wengi abdi dijaga, wengi abdi diaping didama-dama ku du’a.
Dinten ieu abdi kasaksen kusadaya anu nyakseni.
Abdi kenging anugrah illahi robbi anugrah jodo pidu’a Ibu.
Ibu cipanon abdi cipanon ku karumaosan cipanon karisi ati
hate geusan ngedalkeun rasa syukur ka hadirat illahi robbi anu maparin jodo ka mustikaning ati.
Bral anaking miang laki rabi jajap ku du’a.
Sing waluya awet jodo, sing sugih kuasih illahi robbi.
Sing beunghar kuharta, sing jegud ku elmu, sing alus mulus turunan, sing sabilulungan jeung dulur, sing hade ka caroge, sing heman kabaraya, sing galimet jeung kuring leutik, sing hormat ka purwa kalih pamedaling diri, sing gumati kapapagon illahi, ulah tinggaleun ibadah……
Bral………anaking miang laki rabi tur janik dunya aherat.

JEMPLANG TITI

Duh mamah pujaan kalbu.
Sembaheun………saestu.
Rumaos………rumaos.
Kurang tata seueur dosa.
Kasalira dampal mamah   2x
Salawasna ngadoreksakeun.
Kasalira dampal mamah.

Tina ati sanubaru.
Jisim abdi neda ampun.
Tilahir dugi kabatin.
Neda jembar pangapunten.
Neda widi jatuk rami.
Pidu’a anu kasuhun.

PUPUNDEN ATI ( ngumbah sampean Ibu )

Duh anak Ibu.
Nugeulis pupunden ati.   
Bade rendengan.
Jatuk rami pangantenan.
Muga rahayu mulus bangles.
Salawasna jembar panalar.
Sing salamet lahir batin.


Bral geura jengkar.
Mapay tapak lelembutan.
Deuk sauyunan.
Jeung………panutan……
Silih eledan.
Silih simbeuh ku kaasih.
Sakulawargi ngadu’akeun.
Beurang peuting.

JEMPLANG TITI ( Sungkem ka Rama )

Duh Bapa sembaheun abdi.
Cukang lantaran gumelar.
Nampi nuhun laksa katon.
Katresna neda widina.
Sumeja sungkem sumujud.

NIMANG

Puji syukur kayang agung.
Ka illahi maha suci.
Mugi Gusti nangtayungan.
Kasugri anu kumelip.
Mugi Gusti ngahapunten.
Ka dosa-dosa sim abdi.
Mugi Gusti welas asih.
Ka pun Biang sareng pun Bapa. 
 
 
Upacara, Adat, Sunda, Degung, Kacapi Suling, Mapag Panganten, Prosesi Seni, Upacara Adat, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Mapag Panganten, Upacara Prosesi Seni, Upacara Adat, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat Sunda, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Sunda Mapag Panganten, Upacara Sunda Prosesi Seni, Upacara Adat Sunda, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video, Upacara Adat Sunda, Upacara Sunda, Degung, Kacapi Suling, Upacara Adat Sunda Mapag Panganten, Upacara Adat Sunda Prosesi Seni, Upacara Adat Sunda, Tembang Sunda, Celempungan / Kawih, Kiliningan, Tari Klasik, Tari Jaipongan, Ngaras / Siraman / Ngeuyeuk Seureuh, Electone, Photography, Video.